5 Resep Kesuksesan Dalam Mendidik Anak


Gambar : https://pixabay.com/en/school-learning-graphic-design

Anak adalah amanah yang Maha Kuasa yang diberikan kepada kita. Karunia terbesar yang tidak setiap keluarga memilikinya. Inilah kebahagian yang besar bagi orang tua, karena kelak anak akan menjadi penghibur suasana rumah tangga, pelita disaat masa tua. Tugas orang tua selanjutnya adalah mendidiknya agar sukses menapaki jalan hidupnya. Akan tetapi, hambatan sering kali datang. Anak seringkali membuat orang tua kecewa, entah dengan sikap, tutur kata maupun tingkah lakunya, terlebih kalau mereka terlibat skandal kejahatan. Tentu kita sedih kecewa dan tidak ingin seperti itu. Agar anak kita sukses, persiapkan minimal 5 resep. Resep apakah itu simak baik baik tulisan kami di uc.web.com

Advertisements

Pencerahan Itu Bernama CTPS


British Council

Selama 6 tahun menjadi guru, tentu banyak sekali hal yang kami lakukan. Berperan sebagai sebagai pendidik, pengajar, membina peserta didik dan lain – lain. Memang kami sadari, semua fungsi tersebut sangat melekat pada kami, sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan dapat terlaksana. Semua itu kami lakukan fullday disekolah.

Ketika kami mendidik dan membina siswa, maka perspektif yang kami bangun adalah mengelola bagaimana siswa memiliki arah dalam bersikap, berbuat, mengetahui kewajibannya, merasa bertanggung jawab akan tugasnya, mengelola cara berinteraksi dan lain sebagainya. Maka peran kami lakukan secara penuh 24 jam, tentu kami tidak sendiri. Semua elemen terlibat, baik itu guru, karyawan, pimpinan sekolah dan juga orang tua serta teman – teman sepergaulanya. Disinilah fungsi pendidikan yang akan membentuk karakter secara utuh. Meskipun demikian, ada peran yang juga penting yaitu mengajar siswa.

Ketika berperan sebagai pengajar, seringkali yang menjadi target adalah materi. Untuk melaksanakan hal ini maka skema yang dilakukan adalah guru menyusun perangkat berupa prota, promes, silabus, KKM, dan juga RPP. Semua itu adalah komponen  yang akan digunakan untuk mengajar. Pertanyaannya, apakah selama ini kita betul – betul memanfaatkan rencana tersebut sebagai panduan untuk mengajar? Sejujurnya sebagai guru, perangkat pembelajaran tersebut memang kami buat, namun  belum mampu kami optimalkan. Apakah pengalaman ini hanya saya saja atau terjadi banyak diluar sana, wallahu a’lam bishowab. Mudah – mudahan tidak terjadi.

Selama ini dalam mengajar seperti ‘menyuapi’ anak – anak kita. Bahkan cara ‘menyuapinyapun’ dengan cara – cara yang langsung, kalau kami ibaratkan meminta anak – anak memakan apa yang telah bapak/ibu guru sajikan. Entah bagaimana kondisi anak, yang penting harus dimakan. Inilah kegalauan kami sebagai seorang guru dalam mengajar. Karena ketika orientasi kami bangun seperti itu, biasanya yang terjadi kurang efektif dalam mentransfer standar keilmuan yang kami miliki, atau bahkan orientasinya kepada nilai saja, tanpa mempertimbangkan kemampuan pribadi ataupun kemampuan berfikir anak – anak. Naluri kami berkata,  kondisi ini harus kami ubah, bagaimana caranya

Disaat itulah, kami diundang (setelah melalui proses) oleh Britis Council untuk mengikuti pelatihan. Dua kali ini kami datang  ke Jakarta. Yang pertama kami mendapatkan pengalaman baru tentang konsep core skill. Tiga hari kami dikenalkan konsep – konsep pembelajaran yang menjawab tantangan abad 21, namun sekali lagi ini baru intro. Dan undangan yang kedua kami melakukan pendalaman diantara turunan dari core skill, yaitu CTPS (Critical Thingking and problem solving). Walalupun jauh – jauh ke Jakarta, bismillah kami ikuti. Ternyata ada yang masih jauh dari kami, yaitu Ibu Lathifah dari padalaman NTB. Proses yang kami lalui bersama para guru – guru (yang rata – rata sejabodetabek) betul – betul membuat kami ‘merasa’ menjadi guru yang sesungguhnya.

Core skill memiliki 6 turunan, yaitu critical thingking and problem solving, collaboration dan communication, creativity and imagination, citizenship, digital literacy, student ledership and personal development. Kami menyadari, konsep ini adalah konsep istimewa diantara konsep – konsep yang lain. Tentu seja masing – masing punya kelebihan dan kekurangan, namun setidaknya konsep ini telah dilakukan di beberapa tempat di Negara bahkan beberapa benua. Core skill adalah standar kualitas, sebagai alat dalam mempertajam guru serta mempermudah guru dalam melakukan pengajaran.

Tiga hari terakhir ini betul betul kami dituntut bukan hanya mendengarkan, tapi mengalami langsung bagaimana mengelola kelas. Kuncinya adalah CTPS (Critical Thingking and problem solving). Disini guru tidak boleh menyapi langsung, tapi menstimulus siswa. Siswa harus berperan dalam pembelajaran (Student Centered). Konsep ini menguatkan kami dalam menyampaikan materi secara dalam (deep learning). Jadi apa yang kita ajarkan harus benar – benar memaksa siswa bergerak dan berfikir.

Konsep pertama CTPS adalah considering different perspectives. Untuk menyajikan materi, guru harus menyiapkan sebuah alur melalui lesson plan yang bisa memancing siswa untuk berfikir. Baik melalui teks, gambar, video dan lain – lain. Konsep ini tidak merubah materi, namun mengajak anak untuk berfikir, baik secara kelompok maupun berpasangan berdasarkan media pembelajaran tersebut. Mereka mengkaji, menganalisi topik pembelajaran yang disampaikan guru, dengan cara menjawab pertanyaan yang disampaikan guru melalui 4 model pertanyaan, yaitu open question, close question, surface question dan deep question.

Setelah mampu menjawab pertanyaan – pertanyaan dari guru, maka pelan – pelan siswa diajarkan tentang konsep Assessing Evidence (penilaian berupa bukti) disinilah letak penguat selanjutnya. Sejak dini, kemampuan menyampaikan bukti/data harus terlatih, bukan sekedar asumsi, isu ataupun sumber yang tidak jelas. Kaitan dari ini semua adalah terhubung dengan kemampuan literasi siswa. Dalam konsep pengajaran, guru dapat membuat sebuah skema pengajaran melalui proses pembagian siswa kedalam kelompok, kemudian distumulus untuk merumuskan jawabannya. Setelah itu guru mengkonfirmasikan, apakah pendapat siswa masuk kategori  fakta atau opini. Kemudian kita meminta siswa lain untuk memilih adakah yang setuju atau tidak (pro & kontra). Tentu saja hal ini tidak akan selesai pada satu atau dua kali pertemuan, setidaknya semakin dilatih, siswa akan bisa menemukan konsepnya. Dan guru lebih memahami pendapat siswa dan mengoreksinya.

Hal lain yang juga diterapkan kedalam CTPS adalah Non-Routin Problem (Masalah – masalah yang tidak biasa terjadi). Artinya terkadang guru harus menampilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya dalam menyajikan materinya. Hal ini adalah menjadi bagian dalam merefleksikan kondisi masyarakat hari ini, dimana sudah menjadi tuntutan bahwa kondisi dunia akan berubah. Apapun yang dilakukan masyarakat tanpa menyertakan perubahan melalui inovasi – inovasi maka akan tergerus dan mengalami penurunan. Maka, menjadi guru dituntut juga untuk melakukan hal yang tidak biasa ketika mengajar. Dorongan untuk melakukan aktivitas ini agar membiasakan siswa berfikir analis dan antisipasif kelak. Untuk mencapai hal yang demikian, guru dapat melakukan variasi metodologi, dintaranya kolaborasi, yang melibatkan berbagai elemen. Baik itu internal sekolah ( guru, karyawan, siswa, orang tua) ataupun eksternal sekolah (instansi pemerintah, lembaga pendidikan, perusahaan, lingkungan masyarakat, organisasi sosial dan yang lainnya) yang terkoneksi dengan mata pelajaran yang diampu guru. Model dan cara bisa disesuaikan, yang penting tujuan pembelajaran dapat terlaksana, hanya pelaksanannya diperluas yang melibatkan banyak pihak.  Guru adalah bagian terpenting  agent of change, maka semua itu bisa dimulai dari dalam kelas.

Menjadi Umat Risalah


ramadan-mubarak-unta-biruDalam benak beberapa kalangan menyebutkan bahwa, salah satu keberhasilan yang di alami sebuah kekhilafahan besar umat islam yaitu bani Abbasiyah, adalah tingkat keilmuan yang sangat tinggi. Hal ini di buktikan dengan dibangunnya perpustakaan megah yang ada saat itu yaitu Baitul Hikmah. Ratusan ribu jilid buku menghiasi tempat tersebut, bahkan menjadi salah satu ikon peradaban yang penting bagi Bani Abasiyah.

Namun, dalam kenyataan sejarah memberi bukti bahwa ilmu pengetahuan yang ada saat itu tidak memberikan pertahanan yang kuat bagi bangsa tersebut. Realita pahit tertelan dalam episode sejarah Bani Abbasiyah, bahwa hampir dari 2 juta rakyat menjadi korban  serangan membabi buta Hulagu Khan. Apa yang saja yang dilakukan para pejabat, prajurit dan rakyatnya saat itu? Dan terbukah sebuah tabir bahwa kaum masyarakat Bani Abbasiyah telah kehilangan sebuah nilai yang menjadi spirit sebuah kemajuan umat, spirit itu adalah Masyarakat yang menjadi Umat Risalah.

Menjadi umat risalah adalah sebuah sendi bagi terbentuknya peradaban islam. Karena itulah yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW selama 10 tahun di Makkah dan lebih dari 12 tahun di Madinah. Itulah pencapaian terbesar dalam sejarah islam yang menjadi standar bagi terbangunnya sebuah peradaban yang kokoh. Sebuah umat risalah berarti mewarisi sikap, sifat dan kerangka yang utuh dari kehidupan Nabi Muhammad SAW untuk diturunkan sepanjang masa tanpa terputus. Kehilangan spirit kenabian berarti menghilangkan arah keterpaian sukses sejati bagi sebuah individu maupun komunitas.

Salah satu peristiwa yang menghilangkan jati diri umat risalah adalah kesalahan mengambil tolak ukur. Kedudukan seseorang bukan lagi atas prinsip ukhrowi, akan tetapi duniawi. Hal hal yang Nampak tercium aroma kepentingan – kepentingan yang tidak mengabadi. Amal luntur dengan cepat dan tidak membekas. Nilai sebuah ilmu maupun amal tersekat dengan hasrat dan ambisi individu untuk menjayakan dirinya. Hasil dari ini semuanya dapat dikatakan bahwa kekuatan islam yang terwujud dari sistem kehidupan, infrastruktur maupun seluruh elemen pendukung kehidupan hanya menjadi symbol belaka, bukan sebuah fasilitas untuk meraih cinta sang pencipta.

Bukan Pemuda Garam


Inilah tantangan kita mendidik generasi muda, mendidik generasi kokoh, tangguh dengan bekal yang kuat. Dari sinilah akan muncul sosok hebat menurut bidangnya masing – masing. Bukan pemuda garam, apa itu pemuda garam. Pemuda yang mudah meleleh oleh terpaan badai zaman. Tak siap dengan goncangan, mudah rontok dengan rayuan, mudah larut oleh godaan. Maka kita mengharapkan adalah pemuda yang tahan prinsip, meskipun dalam tekanan lingkungan.
Mari sejenak kita belajar pada salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abdullah Bin Hudzafah ra :
Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang panglima kaum muslimin yang ikut serta dalam pembebasan negeri Syam. Dia diserahi misi penting untuk memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng di wilayah Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu gagal dalam salah satu pertempuran, sehingga akhirnya ia ditangkap oleh tentara Romawi.
Heraklius merasa berkesempatan untuk menyakiti dan menyiksa kaum muslimin. Lalu ia mendatangkan Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu ke hadapannya. Ia ingin menguji seberapa kuat agamanya dan ingin menjauhkannya dari Islam. Heraklius memulai dengan memberikan bujukan dan penawaran. Ia menawarkan kepada Abdullah radhiyallahu ‘anhu beberapa tawaran yang menggiurkan.
Heraklius berkata kepadanya, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka engkau akan mendapatkan harta yang engkau inginkan.” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menolak tawaran ini. Kemudian Heraklius menambahkan, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan menikahkanmu dengan putriku.” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu juga menolak tawaran kedua. Lantas Heraklius berkata lagi, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan merekrutmu menjadi orang penting dalam kerajaanku.” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu pun menolak tawaran ketiga ini.
Heraklius menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan bukan sembarang lelaki. Maka ia pun memberikan penawaran keempat. Ia berkata kepadanya, “Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan memberikan kepadamu separuh dari kerajaanku dan separuh hartaku.” Lantas Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu memberikan jawaban yang tegas dan mematikan, “Meskipun kamu memberikan kepadaku semua harta yang kamu miliki dan semua harta yang dimiliki oleh orang Arab, saya tidak akan kembali meninggalkan agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun hanya sekejap mata.”
Setelah Heraklius gagal dalam memberikan penawaran dan bujukan, maka ia menekan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dengan cara memaksa, menyiksa, mengintimidasi, dan mengancamnya. Maka, Heraklius berkata kepadanya, “Kalau demikian, saya akan membunuhmu?” Heraklius tidak menyadari bahwa orang yang tidak tergiur dengan tawaran dan bujukan, tentunya juga tidak akan menyerah menghadapi paksaan dan siksaan. Orang yang menginjak dunia dengan kedua kakinya, tidak akan kikir untuk menyerahkan nyawa untuk menebus agamanya. Ia berkata kepada Heraklius, “Silakan kamu melakukan hal itu.”
Kemudian Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dijebloskan ke dalam penjara dan tidak diberi makan dan minum selama tiga hari. Setelah itu ia disuguhi arak dan daging babi agar ia memakannya. Akan tetapi, Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menolak mencicipinya. Akhirnya sampai berhari-hari ia tidak menyentuh makanan dan minuman sehingga ia hampir mati. Kemudian Heraklius mengeluarkannya dan bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu enggan minum arak dan makan daging babi padahal engkau dalam kondisi terpaksa dan kelaparan?” Ia menjawab, “Ketahuilah! Kondisi darurat memang telah menjadikan hal tersebut halal bagi saya dan tidak ada keharaman bagi saya memakannya. Akan tetapi, saya lebih memilih untuk tidak memakannya, sehingga saya tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk bersorak melihat kemalangan Islam.”
Kemudian Heraklius memerintahkan kepada anak buahnya agar mereka menyalib Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dan mengikatnya pada kayu. Para pemanah siap-siap melesakkan anak panah dari posisi yang dekat darinya. Ia pun tetap bertahan. Heraklius masih menawarkan agar ia memeluk agama Nasrani, tetapi ia tetap menolak. Kemudian ia diturunkan. Heraklius memerintahkan agar disiapkan air di dalam kuali besar dan dinyalakan api di bawahnya. Ketika air di dalam kuali telah mendidih, didatangkanlah seorang tawanan muslim, lalu ia diceburkan ke dalamnya, maka dagingnya pun meleleh sehingga tinggal tulang kerangka. Kemudian tawanan muslim yang kedua diceburkan di dalamnya sedangkan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu melihatnya.
Kemudian Heraklius memerintahkan agar Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dilemparkan ke dalam air mendidih. Ketika mereka memegang Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu untuk dilemparkan ke dalam air mendidih, maka ia menangis. Lantas dilaporkan kepada Heraklius bahwa Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis. Heraklius mengira bahwa Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis karena ia takut mati serta menunjukkan bahwa ia mundur dari posisinya dan membatalkan ketetapan hatinya dan ia akan mengabulkan keinginan Heraklius. Lantas Heraklius memanggilnya dan memberi tawaran kepadanya agar ia memeluk agama Nasrani. Ia pun tetap menolaknya. Lalu Heraklus bertanya kepadanya, “Kalau demikian mengapa engkau menangis?” Lalu ia memberikan jawaban yang menakjubkan, benar-benar melemahkan, dan menetapkan kegagalan dan kekalahan Heraklius, “Saya menangis karena saya hanya memiliki jiwa sebanyak rambut saya, pastilah saya korbankan untuk menebus agamaku. Sehingga, semuanya mati di jalan Allah.” Akhirnya Heraklius mengakui kekalahannya di hadapan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu. Kekalahannya yaitu bahwa ia memiliki harta, pangkat, kekuatan, dan dunia berhadapan dengan seseorang muslim yang tidak bersenjata dan tidak menyandang apa-apa. Lantas ia memberikan tawaran terakhir sebagai bentuk kekalahan.
Demi menjaga martabatnya, Heraklius berkata, “Hai Ibnu Hudzafah! Maukah kamu mengecup kepalaku? Saya akan membebaskanmu dan melepaskanmu?” Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Baiklah, dengan syarat engkau harus melepaskan semua tawanan kaum muslimin yang berada di dalam penjara kalian saat itu ada lebih dari 300 tawanan.”
Setibanya ke Madinah, dan menghadap Khalifah Umar, Abdullah bin Hudzafah melaporkan semua peristiwa yang dialaminya. Khalifah Umar sangat gembira mendengar laporan Abdullah tersebut. Ketika memeriksa pasukan Muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama Abdullah, Umar berkata, “Sepantasnyalah setiap Muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah. Nah, aku yang memulai!”

Khalifah Umar bin Al-Khathab berdiri lalu mencium kepala Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy.

Misteri Kekalahan Timnas Indonesia dari Belanda


uploads--1--2013--04--12509-timnas-belanda-130324134553-322-indonesia-vsPada hari jum’at kemarin, publik indonesia dibuat keheranan dengan aksi timnas belanda dengan timnas indonesia, apalagi aksi kiper kurnia mega yang luar biasa menjaga gawang timnas dari gempuran van persie dkk, meskipun akhirnya kebobolan 3-0, itupun dibabak kedua. hal ini membuat pelatih belanda memberi apresiasi yang luar biasa . akan tetapi, kenapa dibabak kedua indonesia ‘seakan’ mengalah dengan kemasukan 3 gol beruntun, padahal babak 1 luar biasa bertahannya, adakah konspirasi dibalik ini?

banyak analisa yang muncul, namun biarlah itu menjadi ‘rahasia’ masing – masing dapur pelatih, yang cukup menarik disini adalah ‘kenapa’ kedatangan timnas belanda yang cukup mendadak ini ke Indonesia, saya kira ini akan banyak tafsir, tapi kita agak terheran – heran dengan beberapa peristiwa yang yang terjadi/momentum kedatangan timnas belanda ke indonesia :

1. Timnas belanda mengunjungi kota tua di jakarta

Kalau kita tanya tentang orang Jakarta tentang kota tua pasti mereka akan  mengerti. Kota tua adalah simbol dari awal prahara kehidupan masyarakat indonesia. kota tua adalah tempat dimana Kerajaan penjajah belanda mengatur kekuatannya dalam menjajah indonesia, kota tua ini sangat erat kaitannya dengan Batavia (baca: kota tua jakarta/wikipedia)

2. Peringatan 150 tahun Frans Van Lith

Siapakah Frans Van Lith? orang – orang Katholik pasti sangat mengenal tokoh yang satu ini. Dialah tokoh belanda yang menjadi dalang misionaris dijawa, tokoh yang mengubah sejarah kehidupan kaum muslimin di indonesia. Bulan Mei ini merupakan 150 tahun peran van lith dalam tugasnya meng-katholikkan kalangan pribumi. Peran Frans Van Lith sangat besar dalam perkembangan agama Khatolik di jawa khsusunya dan masyarakat indonesia pada umumnya. Melalui kebudayaan, van lith melakukan cara – cara yang ditempuh walisongo dahulu untuk mengubah keyakinan orang – orang pribumi. ( baca: catatan akhir pekan adian husaini)

jadi, bagi kaum muslimin, kekalahan timnas dari belanda tidaklah penting, yang paling penting  janganlah aqidah kita, keimanan kita dan juga akhlak kita ‘kalah’ dijajah oleh orang – orang kafir karena mereka tidak akan pernah rela kita mengikuti millah muhammad saw. wa’llahu a’lam bishowwab.

Menghadapi Perjuangan


FOTO TERBAIK DUNIA 2013_

  • Indanya perjuangan adalah kala semua potensi dan kemampuan kita ditempa; fisik, mental, harta, kesabaran, keteguhan, kecerdikan hingga ketegasan..
  • Tempaan seperti ini tidak didapat kecuali di medan nyata, di tengah “debu dan kilatan pedang” perjuangan..tidak cukup melalui kajian2 teoritis belaka
  • Sabda nabi: “Alkhabar laisa kal mu’ayanah” mendengar berita tdk sama dg melihatnya secara langsung….
  • Justru dalam pejuangan di medan nyata biasanya proses pematangan pribadi dan teori2 yg kt pelajari akan terbentuk….
  • Pribadi dan ilmu yg tidak matang ibarat buah ‘mengkel’…menggiurkan.. namun sering bikin sakit perut…
  • Kematangan ini yg akhirnya sangat dibutuhkan di jalan perjuangn… kerja, kesabaran, ketegasan hingga ‘kemarahan’ tersalur dlm konteksnya…
  • Kematangan yang mengantarkan seorang pejuang agar tidak jumawa kala jaya dan tidak putus asa kala kecewa…
  • Kondisi ini hanya terbentuk oleh tribulasi perjuangan yang kita lalui… apa yg terjadi sekarng bukanlah tribulasi pertama dn terakhir…
  • Karena, jika ini adalah bagian dr tarbiyah…. maka kita mengenal tarbiyah madal hayat… pembinaan seumur hidup…
  • Kematangan akan sulit terbentuk oleh pejuang model anak papi-mami yang teraduh-aduh oleh ‘gigitan semut’….
  • Karena perjuangan baginya adalah bagaimana seleranya terpenuhi dan harapannya segera terbukti tanpa benturan sana sini…
  • Kata – kata terindah di jalan perjuangan adalah pernyataan kesetiaan saat ujian berat dan tantangan hebat menghadang di tengah perjalanan…
  • Bagaikan kata – kata para shahabat saat2 genting ketika menghadapi perang Badar..”Wahai Rasulullah… kami akan ikut engkau… kami tdk ingin…
  • Km tidak ingin berkata spt perkataan Bani Israil, pergilah berperang bersama tuhanmu, kami duduk – duduk di sini…
  •  “…Tapi yg ingin kami katakan ‘teruslah berperang bersama tuhanmu… kami akan ikut berperang bersamamu…” (@abdullah Haidir)