Menjadi Umat Risalah


ramadan-mubarak-unta-biruDalam benak beberapa kalangan menyebutkan bahwa, salah satu keberhasilan yang di alami sebuah kekhilafahan besar umat islam yaitu bani Abbasiyah, adalah tingkat keilmuan yang sangat tinggi. Hal ini di buktikan dengan dibangunnya perpustakaan megah yang ada saat itu yaitu Baitul Hikmah. Ratusan ribu jilid buku menghiasi tempat tersebut, bahkan menjadi salah satu ikon peradaban yang penting bagi Bani Abasiyah.

Namun, dalam kenyataan sejarah memberi bukti bahwa ilmu pengetahuan yang ada saat itu tidak memberikan pertahanan yang kuat bagi bangsa tersebut. Realita pahit tertelan dalam episode sejarah Bani Abbasiyah, bahwa hampir dari 2 juta rakyat menjadi korban  serangan membabi buta Hulagu Khan. Apa yang saja yang dilakukan para pejabat, prajurit dan rakyatnya saat itu? Dan terbukah sebuah tabir bahwa kaum masyarakat Bani Abbasiyah telah kehilangan sebuah nilai yang menjadi spirit sebuah kemajuan umat, spirit itu adalah Masyarakat yang menjadi Umat Risalah.

Menjadi umat risalah adalah sebuah sendi bagi terbentuknya peradaban islam. Karena itulah yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW selama 10 tahun di Makkah dan lebih dari 12 tahun di Madinah. Itulah pencapaian terbesar dalam sejarah islam yang menjadi standar bagi terbangunnya sebuah peradaban yang kokoh. Sebuah umat risalah berarti mewarisi sikap, sifat dan kerangka yang utuh dari kehidupan Nabi Muhammad SAW untuk diturunkan sepanjang masa tanpa terputus. Kehilangan spirit kenabian berarti menghilangkan arah keterpaian sukses sejati bagi sebuah individu maupun komunitas.

Salah satu peristiwa yang menghilangkan jati diri umat risalah adalah kesalahan mengambil tolak ukur. Kedudukan seseorang bukan lagi atas prinsip ukhrowi, akan tetapi duniawi. Hal hal yang Nampak tercium aroma kepentingan – kepentingan yang tidak mengabadi. Amal luntur dengan cepat dan tidak membekas. Nilai sebuah ilmu maupun amal tersekat dengan hasrat dan ambisi individu untuk menjayakan dirinya. Hasil dari ini semuanya dapat dikatakan bahwa kekuatan islam yang terwujud dari sistem kehidupan, infrastruktur maupun seluruh elemen pendukung kehidupan hanya menjadi symbol belaka, bukan sebuah fasilitas untuk meraih cinta sang pencipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s